Belajar Kesederhanaan Dari Sosok Pak Achjak Adisusilo
Desa Wonokerto merupakan desa yang memiliki sejarah panjang dengan berbagai peristiwa yang melintasi zamannya. Beberapa peninggalan pada zaman kewaliyan masih terjaga hingga saat ini sebagai saksi dari cerita masa lalu. Khusus di bidang pendidikan, dapat dikatakan bahwa Desa Wonokerto ini merupakan pionir pendidikan yang berada di wilayah Kecamatan Bandar. Hal ini bisa dilihat dari perjalanannya yang cukup rumit dan panjang mulai dari zaman penjajahan Belanda hingga sekarang dimana masyarakat desa melalui beberpa tokonya semangat dan perhatian yang tinggi terhadap pembangunan kecerdasan manusia. Berangkat dari hal ini kita bisa membaca ulang sedikit lintasan sejarah perkembangan pendidikan di Desa Wonkerto melalui cerita perjuangan Pak Ahyak, salah satu tokoh masyarakat yang konsen di dunia pendidikan.
Bapak “Achjak Adisusilo” atau yang sering dipanggil Pak Ahyak lahir di Batang 12 Agustus 1943. Beliau merupakan putra ke tiga dari pasangan Bapak Abdul Wahid dan Ibu Siti Surati. Selain pak Ahyak, Bapak Abdul Wahid dan Ibu Siti Surati di karuniai 5 anak yang lain diantaranya Son Haji, Muhyidin, Fatonah, Amin dan Ahsan. Istri Pak Ahyak bernama Ibu Misti’ah yang berasal dari desa Wonokerto juga. Sekarang Pak Ahyak dan Ibu Misti’ah tinggal di DK Krajan 1 RT 004/ RW 001, Desa Wonokerto, Kecamatan Bandar. Beliau di karuniai 5 anak yaitu Dzakiyah, Uswatun Khasanah, As’ad Sofiyuddin, Muhammad Nasrullah dan Ninik Qoni’ah.
Perjalanan Pendidikan Pak Ahyak dimulai dari Sekolah Rakyat Wonokerto yang bertempat di Dukuh Kauman RT 06 RW 01 kelas 1 – 3, lalu melanjutkan ke Sekolah Rakyat Bandar kelas 4 – 6 dan lulus tahun 1957. Pada saat itu Sekolah Rakyat di Bandar hanya ada tiga, yaitu Sekolah Rakyat Wonokerto, Sekolah Rakyat Tambahrejo yang ada di Dukuh Wrage dan Sekolah Rakyat Bandar yang ada di Dukuh Karetan Desa Wonokerto. untuk Sekolah Rakyat Wonokerto dan Tambahrejo mebuka pelayanan kelas 1 sampai kelas 3 sedang Sekolah Rakyat Bandar membuka layanan kelas 1 sampai kelas 6. maka sudah bisa di pastikan setiap lulusan Sekolah Rakyat Wonokerto dan Tambahrejo harus melanjutkan ke Sekolah Rakyat Bandar.
Untuk pendidikan menengah sendiri beliau harus melanjutkan ke kota tetangga tepatnya di SMP Ma’had Islam Pekalongan karena di Bandar belum ada pendidikan tingkat menengah pada tahun 1960 sambil indekos di sana. SMP Ma’had Islam merupakan salah satu sekolah favorit yang ada di kota Pekalongan dan kebanyakan siswanya berasal dari Keturunan Arab. kemudian beliau melanjutkan Pendidikan di SGA (Sekolah Guru Atas) Kota Pekalongan yang sekarang menjadi SMA 03 Pekalongan pada tahun 1963. Setelah empat tahun menempuh Sekolah Guru Atas, beliau mengajar dan mengabdi di beberapa sekolah. Sambil mengajar, bersama teman seperjuangan tahun 1982 mengikuti perkuliahan di IKIP PGRI Wates Yogyakarta yang membuka cabang di Weleri dengan mengambil jurusan Filsafat Dan Sosiologi Pendidikan dan lulus tahun 1986.
Bakat mendidik beliau mulai terlihat sejak praktik mengajar yang kebetulan saat itu satu ruang dengan Bapak Abu Khairi dari Sragi Pekalongan yang kebetulan sedang ikut persamaan di SGA hingga akhirnya Pak Abu Khair yang kebetulan Kepala SDN Toso menariknya lewat kepala kantor sehingga untuk penempatan pertama di SDN Toso dengan status pegawai negeri Kabupaten Pekalongan karena dulu masih di satukan dengan Pekalongan. Karena waktu itu pemerintah masih kekurangan guru, maka di bentuklah Sekolah Pendidikan Guru C1 untuk Keawedanan Bandar (kecamatan Bandar, Blado Dan Wonotunggal) bertempat di Karetan Wonokerto yang sekarang jadi Gedung PDAM dimana beliau dipindah mengajar disana. Saat itu Pendidikan Guru C1 di Kabupaten Pekalongan hanya ada di 4 tempat yaitu Kajen, Bandar, Subah Dan Bawang. Dan berhasil meluluskan dua Angkatan. Karena di anggap sudah memenuhi target kekurangan maka SPG C1 di bubarkan dan Pak Ahyak kembali mengajar di SDN Toso lagi tahun 1972.
Menjadi Pendidik pada saat itu bukanlah pilihan mudah, karena Gaji yang masih rendah dan di anggap pekerjaan yang sepele. Beliau pernah di tawari kakaknya untuk menjadi sekretaris pabrik karet dan teh di sukabumi, Setelah dirembug dengan orang tuanya beliau di peseni, “ya’, rodo kui mubeng (roda itu berputar)”, dan di tolaklah tawaran tersebut.
Pada tahun 1965 kepala SDN Toso mengalami pergantian kepala sekolah. Dalam situasi yang demikian Pak Ahyak pernah mengalami pengalaman menarik karena mengajar enam kelas sekaligus selama tiga bulan karena kebetulan dari tiga guru yang ada, yang satu sering sakit dan kepala sekolah yang baru tersangkut kasus G30S PKI sehingga menjalani pemeriksaan selama tiga bulan, walhasil beliau mengajar kelas satu sampai kelas enam sendirian. Biasanya beliau masuk dari kelas satu berturut turut sampai kelas lima dan di beri tugas dan mengajar di kelas 6. Lalu pukul 11 siang beliau kembali mengecek tugas yang di berikan dari kelas lima sampai kelas satu. Kelas 6 di beri perhatian khusus karena di samping persiapan ujian negara, Pak Ahyak juga merupakan guru yang di amanahi pokok mengajar di kelas 6. Meskipun kelas 6 hanya tersisa tiga anak tidak menyurutkan semangatnya untuk terus mendidik sampai tuntas.
Sewaktu mengajar di Toso inilah beliau gelisah karena melihat Bandar mestinya harus ada sekolah tingkat lanjutan setelah SD karena SPG C1 di bubarkan. Maka Pak Ahyak memberanikan diri dengan Pak Shobari menyampaikan pada Pak Diyanto selaku Camat Bandar untuk izin mendirikan SMP, namun tidak di setujui dan di anjurkan untuk mendirikan kelas pembangunan saja. Akhirnya di bukalah kelas pembangunan bertempat di Gedung yang sebelumnya dipakai kelas SPG C1 dengan kepala sekolah Pak Sarpangi yang juga menjadi kepala SDN Bandar. Sebagai sekolah yang baru dan gurunya rata – rata sudah mengajar di tempat lain membuat pembelajaran di kelas pembangunan ini tidak berjalan lancar, beberapa guru terkadang tidak berangkat. hal ini membuat Pak Ahyak berusaha untuk menjaga kestabilan pembelajaran dengan sering datang ke kelas pembangunan. Namun karena minat belajar yang rendah menyebabkan kelas pembangunan hanya berjalan satu tahun saja dan bubar.
Bubarnya kelas pembangunan tidak menyurutkan langkah dan semangat Pak Ahyak untuk perjuangan sekolah tingkat lanjut, maka bersama dengan teman guru sejawatnya, danbertempat di tempat yang sama, mendirikan lagi SMEP (sekolah menengah ekonomi pertama). Namun tidak sampai satu tahun sekolah itu pun bubar karena minat belajar yang rendah.
Berangkat dari dua pengalaman bubarnya pendirian sekolah lanjutan akhirnya Pak Ahyak mencoba lewat metode lain yaitu melalui desa dengan menemui Bapak Wastari selaku kepala desa Wonokerto. Saat itu Pak Wastari merupakan kepala desa yang memiliki perhatian yang tinggi terhadap Pendidikan. Dengan semangat mengembangkan Pendidikan lanjut di desa, hal inipun langsung di sambut antusias oleh bapak kepala desa dengan langsung mengumpulkan 11 orang panitia inti dari unsur pemerintah desa, tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh Pendidikan yaitu Pak Asmawi, Pak Tamadi (Sekretaris Desa), Mbah Was’an, Mbah Sapari, Pak Konawi, Kyai Mudzakir, Pak Sonhaji, Pak Suradi, Pak Ahyak, dan dua orang lagi lupa. Bertempat di kediaman pak lurah, musyawarah ini menghasilkan keputusan akan di dirikanya MMP (Madrasah menengah pertama) sekitar tahun 1972. Dengan semangat swadaya, MMP pendirinya merupakan Pengurus Nahdlatul Ulama tersebut menyisir ke desa-desa melalui jaringan Nahdlatul Ulama dan berhasil menggaet murid dari luar desa karena merupakan MMP pertama di kecamatan bahkan kawedanan bandar. MMP inipun berdiri di bawah bendera LP Ma’arif NU dengan bapak Suradi sebagai kepala sekolah.
Kemudian di tahun 1973 Pak Ahyak bersama – sama dengan tokoh masyarakat dan di pimpin oleh pak wastari selaku kepala desa, memindahkan Sekolah Rakyat Wonokerto dari pedukuhan kauman ke pedukuhan dukuh karena untuk memudahkan akses masyarakat sebelah selatan desa Wonokerto untuk menjangkau Pendidikan dasar karena kebetulan di kauman sudah ada Sekolah Dasar Islam yang sekarang menjadi MIN 1 Batang. Pak Ahyak pun menjadi guru di sekolah tersebut.
Di tahun yang sama MMP berubah menjadi PGA (Pendidikan Guru Agama) 4 Tahun atau PGAP dan Pak Ahyak di tunjuk sebagai Kepala Sekolah, karena kebetulan masuknya siang hari. Lembaga ini di bawah naungan Departemen Agama yang memberikan layanan Pendidikan selama 4 tahun dengan tujuan mempersiapkan guru-guru agama selanjutnya. Setelah meluluskan dua Angkatan dan menyesuaikan peraturan yang ada, PGAP berubah menjadi Madrasah Tsanawiyah At Taqwa Bandar. Di tahun 1986 Madrasah Tsanawiyah mengganti masuknya dari siang hari menjadi pagi hari karena menyesuaikan peraturan yang ada, maka Pak Ahyak tidak bisa membantu mengajar di MTs karena pagi harinya harus mengajar di SD.
Pak Ahyak selalu meyakini bahwa Pendidikan adalah investasi masa depan bagi setiap anak. Maka dengan berbekal Semangat mengembangkan Pendidikan di Wonokerto, pada tahun 1995 beliau mengajak diskusi dengan pak H. Fauzi dan Pak Daemuri untuk membuka sekolah lanjut atas. Setalah melalui diskusi Panjang tentang bentuk sekolah yang dipilih antara SMA Islam atau Madrasah Aliyah maka di sepakati untuk bentuknya adalah Madrasah Aliyah di bawah Yayasan GUPPI ( Gabungan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam) milik Partai Golkar yang bertujuan untuk memajukan Pendidikan Indonesia dengan mendirikan sekolah bernafaskan islam. Hal ini dipilih karena untuk memudahkan akses perizinan dan akses ke pemerintah. Dan Madrasah Aliyah inipun menjadi Pendidikan lanjutan atas peratama di Kecamatan Bandar dengan kepala sekolah Bapak Daemuri. Pak Ahyak sendiri megajar di hari jumat dan sabtu karena senin sampai kamis mengajar di SDN bandar 02. Kemudian di tahun 1998 beliau di angkat sebagai pengawas dan pengabdian di Madrasah Aliyah pun dilanjutkan oleh putrinya, Ibu Dzakiah.
Sebagai seorang pegawai negeri sudah pasti rotasi atau pemindahan tempat mengajar juga dialami oleh Pak Ahyak. Rotasi ini bertujuan untuk pemerataan tenaga Pendidikan menuju pemerataan kualitas pendidikan. Berawal dari SDN Toso lalu di pindah ke SPG C1 di Bandar. Setelah selesai di SPG kembali ke SDN Toso dan tahun 1973 di pindah ke SDN Wonokerto. selanjutnya beliau di pindah ke SD Bandar 01 pada 1974 sebagai guru kelas 6 dan di tahun 1976 mulai di promosikan sebagai kepala sekolah di SDN Pesalakan, dan berturut turut di SDN Binangun sebagai Kepala sekolah selama 11 tahun selanjutnya tahun 1987 pindah ke SDN Pucanggading juga sebagai Kepala sekolah dan terakhir pada tahun 1995 pindah sebagai kepala sekolah SDN Bandar 02 sampai tahun 1998. Sebagai pendidik yang memiliki etos kerja dan perhatian tinggi terhadap Pendidikan, beliau dua kali di amanati untuk menyelenggarakan ujian negara sewaktu kepala sekolah di SDN Pesalakan, SDN Binangun dan SDN Pucanggading. Waktu itu tidak semua sekolah di percaya untuk menyelenggarakan ujian, Sekolah yang belum standard menyelenggarakan ujian harus menginduk dengan sekolah yang sudah memenuhi standard. Berbekal dari suksesnya mendirikan sekolah, beliau di amanahi untuk terlibat Tim inti pendirian SMP N 02 Bandar di Desa Kluwih bersama Bapak Ahamd Fatoni. Disana Pak Ahyak mengajar Bahasa inggris, sebuah pengalaman baru karena Bahasa inggris adalah hal baru dalam dunia Pak Ahyak.
Kemudian beliau diangkat menjadi Dewan Pengawas SD di Dinas Pendidikan Kecamatan Blado pada tahun 1998, yang tugas nya untuk mengawasi setiap sekolah-sekolah dasar yang berada di wilayah kecamatan Bandar ataupun Blado. Beliau bekerja sebagai dewan pengawas tersebut sampai pensiun pada tahun 2003.
Memilih bergerak di pendidikan untuk waktu itu adalah berjuang di jalan sunyi karena jarang ada orang yang masuk disana. Guru sekelas pegawai negeripun, pada saat itu masih sangat rendah untuk gaji yang di terimakan. Terlebih saat menjadi kepala sekolah, karena pada waktu itu bukanlah hal yang mudah sebab juga harus berfikir keras untuk memikirkan gaji guru, perlengkapan pembelajaran dan fasilitas lain, sedang dari pemerintah belum mendukung sekolah swasta serta tidak bisa menarik dana SPP dari siswa karena factor krisis ekonomi. Lelahnya fisik, risaunya hati, penatnya fikiran dan mengorbankan finansial adalah hal biasa yang dilakukan. Di tambah dengan rendahnya animo masyarakat desa terhadap Pendidikan. Hal ini sangat wajar mengingat krisis yang melanda Indonesia di kurun waktu 1960 sampai 1970an saat terjadi pergeseran dari orde lama ke orde baru membuat masyarakatragu untuk menyekolahkan anak-anaknya. Di samping perhatian dan subsidi anggaran pemerintah yang rendah, Masalah keterbatasan SDM pendidik pun jelas terasa, sehingga pada waktu itu para pendidik pun iuran untuk melengkapi fasilitas sekolah guna untuk memperlancar kegiatan belajar mengajar yang ada.
Namun itu semua tidak menyurutkan semangat beliau untuk berjuang lewat jalur pendidikan. Kegigihan beliau dalam mengajar berbanding lurus dengan kegigihan akan apa yang dicita-citakan beliau tentang pentingnya investasi pendidikan bagi anak untuk masa mendatang, hal inilah yang membuat beliau ikut andil dalam merintis sekolah-sekolah. Besar harapan anak – anak desa bisa memiliki pengetahuan yang luas dan bergerak membangun desanya.Yang tidak hanya sekedar mencari pekerjaan namun juga ikut andil dan terlibat dengan memberikan sumbangsi baik secara fikiran maupun tindakan untuk kemajuan desa menjadi Wonokerto yang mandiri dan berdaulat. Hal ini dicontohkan beliau dengan sangat terlihat jelas dari pemindahan sekolah rakyat menjadi SDN Wonokerto agar Pendidikan dasar lebih merata, lalu menggagas sekolah lanjut dan sekolah atas lewat MTs dan MA di desa Wonokerto.bersama rekan-rekannya, perjuangan ini, diharapkan menjadi jembatan masyarakat untuk dapat menyekolahkan anak-anaknya di desa nya sendiri tanpa perlu jauh jauh mencari sekolah di luar desa.
Bapak Achjak Adisusilo adalah tokoh pendidik yang senantiasa rendah hati, terbuka terhadap perubahan dan memiliki semangat muda yang tetap menyala serta kepedulian tinggi terhadap Pendidikan. Inisiatif untuk mencari sebuah gagasan-gagasan baru untuk memajukan desa dan mensejahterakan rakyat melalui Pendidikan adalah gambaran apa yang di fikirkanya sehari hari. Dengan usia senja saat ini beliau berharap pada anak muda untuk terus memberikan kontribusi positif pada desa dengan memberika terobosan dan lompatan dalam bergerak dan bertindak terutama dalam pengembangan sumberdaya manusia sebagaimana pesan beliau “Sebuah desa akan maju jika mampu melahirkan sumber daya manusia yang unggul”. Untuk itu sudah sepantasanya Gerakan inspiratif ini jangan sampai berhenti di periode mbah Ahyak, dan sudah saatnya pemuda harus bangkit dan meneruskan Wonokerto sebagai pionir Gerakan di Kecamatan Bandar.
Perjalanan perjuangan mbah Ahyak merupakan kisah Panjang yang mengajarkan kita tentang arti bekerja keras dan bekerja cerdas, tidak berputus asa, terbuka, egaliter dan istiqomah. perjuangan sulit yang telah dilalui mbah Ahyak sudah lebih dari cukup untuk menghentak kita sebagai generasi penerus untuk berbenah menata hari esok. sudah tidak waktunya lagi sibuk menyalahkan yang lain dan terlalu telaten mencatat kebaikan diri sendiri. pengembangan kompetensi dan pengetahuan diri harus terus dilakuakan agar bisa menjadi pertimbangan yang maksimal dalam mengambil keputusan-keputusan terbaik dan tidak lupa untuk mengembangkan jaringan luar guna membangun kerja sama positif sehingga tercipta terobosan dan inovasi untuk desa tercinta. Tentunya kita harus yakin bahwasanya sebagai pemuda harus berkolaborasi bersama dalam membangun desa melaluispirit yang kuat untuk memajukan desa, karena yang diharapkan pemuda juga harus mampu berfikir kritis dan menjadi garda terdepan disetiap ada permasalahan-permasalahan yang mulai muncul di lingkungan masyarakat.
Penulis : Slamet Nur Khamid & Ita Khuniyawati
Terima kasih coretannya Kak Slamet dan Kka Ita, terus berkarya untuk membangun Desa kita Wonokerto lebih maju dan kreatif ,serta bermartabat.
BalasHapusNggeh sama sama.
BalasHapus